Tulisan Terbaru

Sepenggal Catatan

Hai… bagaimana kabarmu? Aku masih ingat, kawasan Pecinan tempatmu tinggal yang luluh lantak. Aku sedih, sedih sekali. Ini bukan hanya tentang orang-orang yang mati, abu bekas kebakaran, puing-puing dan airmata. Di manakah kamu kini? Ada apa dengan manusia sekarang? Ini bukan sekadar kebiadaban, sebab sejarah kebiadaban telah berlangsung di mana-mana.

Masih terurai di ingatanku, awal kita bertemu dulu. Pada hari itu, di sebuah ruang, kita saling bertukar kertas, berbagi pertanyaan dan saling menjawab. Di ruang itu, di mana percakapan hampir tak mungkin dilakukan, aku mengambil kertas, menuliskan sesuatu, lalu kutitipkan pada seorang kawanmu. Dan, kamu membalasnya. Juga dari jauh, lewat kertas. Dari tempatku duduk, aku melihat senyuman darimu.

Sampai suatu hari, akhirnya kita bisa benar-benar bercakap-cakap. Dan aku dihinggapi perasaan unik. Entah apa. Namun aku tahu, perasaan seperti itu, pada saat-saat tertentu tak boleh dibicarakan. Janggal untuk diucapkan. Tapi, kamu rasanya tahu itu. Pernah suatu sore, kita jalan-jalan, lalu menikmati jagung bakar di tepi jalan yang teduh. Kamu cukup banyak tertawa sore itu, sekalipun sedih kulihat menggantung di matamu. Rasanya aku ingin mengulanginya walau sendiri. Menyusuri jalan yang sama walau sendiri…

Dulu kita kerap menikmati waktu dan tertawa bersama. Tapi, selalu ada yang aneh dalam setiap tawa dan senyummu. Seperti tak lepas. Seperti ada sedih yang menggelayut. Seperti ada sesuatu yang dalam dan pedih. Dan itu membebanimu. Ah, seandainya aku bisa membantu, seandainya aku bisa meringankan beban itu. Tapi aku paham, ada hal-hal tertentu yang tidak mungkin dibagi pada siapa pun.

Hingga saat peristiwa itu terjadi – kerusuhan Mei 1998 – kita tak pernah bertemu lagi. Bahkan, aku tak lagi menerima kabarmu, walau lewat e-mail. Tak terasa, telah 12 tahun tak kutemukan lagi namamu ada di box e-mail-ku. Aku sempat menyusuri kawasan tempat tinggalmu. Deretan rumah-rumah warga keturunan yang hancur lebur. Tak bisa kutemukan apa-apa tentangmu. Tak ada yang tahu di mana kamu dan keluargamu. Jangan-jangan, kamu adalah bagian dari puing-puing dan abu itu. Jangan-jangan…

Kadang, kubuka lagi surat-suratmu yang ada di e-mail-ku, siapa tahu aku menemukan sesuatu dari sana. Sia-sia. Aku hanya terobati dengan membaca ulang surat-suratmu padaku. Surat-surat pendek. Surat-surat yang menandakan kamu enggan berbagi banyak, tak mau bercerita panjang. Dari surat-surat itu, aku semakin diburu rasa berjumpa denganmu. Lalu aku keluar kamar, ingin bercakap denganmu, ingin berbincang dengan malam. Tahukah kamu, pernah terbayangkan olehku berpergian berdua denganmu. Betapa menyenangkan. Melintasi kota-kota, singgah di tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Dan kita mencatat. Menandai dimensi dan ruang-ruang. Menandai keterasingan. Memberi tempat bagi banyak peristiwa untuk menyusun kesendirian kita. Kamu akan menyusun diriku, dan semoga, aku bisa menyusun dirimu.

Tapi malam ini panas sekali. Jakarta rasanya juga kian jadi kota yang tak ramah. Kota penuh konflik. Kekerasan dan pembunuhan hampir terjadi tiap hari. Ada yang diberitakan media, ada yang berlalu begitu saja. Kemarin seorang preman dibacok hingga mati. Aku masih melihat mayatnya walau sepintas. Aku tak suka melihat mayat. Aku sedih, begitu banyak orang melakukan sesuatu atas nama kematian. Bukan atas nama kehidupan. Aku mungkin bukan orang yang cukup berbakti pada keyakinan-keyakinan.  Tapi, seandainya harus memilih, aku memutuskan untuk berbakti pada kehidupan,  dan bukan pada kematian.

Aku melihat jam. Sudah cukup larut, sesaat lagi pagi. Sesungguhnya aku masih ingin bercakap-cakap denganmu malam ini. Melayangkan gundahku padamu. Namun, aku harus segera beristirihat, sebab esok aku harus menyusun paragraf-paragraf yang sarat kehidupan. Walau, esok pasti tetap ada orang yang saling membunuh. Bagi orang tertentu, untuk mempertahankan hidupnya mereka akan membunuh. Aku tak percaya, tapi itulah yang terjadi. Itulah yang selama ini kucatat. Aku juga melihat, banyak orang mati dengan tidak semestinya. Setiap jam, ada ibu-ibu yang mati karena melahirkan bayinya. Setiap saat, ada anak-anak yang mati karena kekerasan di jalan. Bahkan, masih banyak orang yang mati karena tak dapat makan. Banyak kematian yang tidak diperbincangkan, dan seolah tak dipermasalahkan. Dan semua terjadi begitu saja..

Aku beranjak masuk, menutup pintu, menguncinya. Samar-samar, kudengar raung sirine di kejauhan….

Jakarta, dini hari yang dingin…